Nilai Dan Harga Waktu – Ajaran Islam

Setiap manusia berharap untuk sukses dan kebahagiaan di semua bidang kehidupan yang dia alami, baik materiil dan spiritual. Individu yang telah mencapai tujuannya dalam kehidupan dikreditkan dengan keberhasilannya dalam memanfaatkan waktu yang merupakan hadiah dan kepercayaan Tuhan yang tidak dapat dinilai dengan materi atau uang. Para ahli Islam berpendapat bahwa “waktu” adalah usia dan kehidupan seseorang. Membuang-buang waktu berarti menyia-nyiakan hidup kita, membunuh hidup kita, dan mengekspos diri kita pada kehilangan, kegagalan, dan kehancuran.

Masalah “waktu” bukan hanya salah satu masalah kehidupan Muslim, tetapi “waktu” adalah salah satu masalah utama. Ini karena “waktu” adalah usia atau umur seseorang. Setiap momen dan waktu yang telah lewat, bukan hanya bagian dari jam dan detik, itu juga merupakan “waktu hidup” seseorang atau umur manusia.

Adalah fakta yang jelas bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pandangan Islam tentang waktu dan cara umat Islam berinteraksi dengan waktu. Di mana Islam menghargai setiap waktu atau momen yang berlalu. Waktu akan dievaluasi dengan cermat dan cermat, apakah itu digunakan untuk melakukan pekerjaan dengan antusiasme atau motivasi yang tinggi, atau dengan rasa malas dan menunda-nunda.

Ini sangat berbeda dari cara umat Islam menghabiskan waktu dalam hidup mereka. Di mana mereka mendiversifikasikan cara mereka dalam membuang-buang waktu. Baik di kedai kopi, kantor-kantor pemerintah, atau dengan menonton sepak bola, untuk memberikan tepuk tangan dan dukungan kepada klub atau pemain tertentu (atau lainnya).

Sebuah penelitian yang dilakukan mengatakan bahwa rata-rata jam kerja harian orang Eropa melebihi tujuh jam sehari. Studi ini juga menjelaskan bahwa rata-rata waktu kerja seorang Muslim tidak lebih dari tiga puluh menit sehari.

Begitukah kehidupan seorang Muslim?

Mungkinkah standar hidup yang begitu buruk ada di tangan umat Islam? Meskipun mereka menganut agama yang ditemukan dalam tulisan kitab, kesaksian tentang pengakuan banyak dosa dan pelanggaran pada Hari Pengadilan adalah:

“Dan (pada hari kiamat) kitab itu diletakkan, dan kamu akan melihat orang yang bersalah takut akan apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka berkata:” Wahai manusia celaka, buku apa ini yang tidak meninggalkan kecil dan tidak pun yang besar, tapi mencacat segalanya; dan mereka menemukan bahwa apa yang mereka lakukan adalah (secara tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya siapa pun. “(Surah al-kahfi: 49)

Ini seharusnya tidak terjadi. Standar hidup dan perbedaan waktu yang dibuat umat Islam tidak dapat diabaikan hanya ketika semua negara kuat (seperti kekuatan super) bersaing untuk setiap momen atau momen di laut atau di luar angkasa (tidak hanya di darat).

Jika umat Islam memiliki pemahaman, mereka akan menjadikan doa yang terkandung dalam Quran sebagai “moto” mereka: “Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jauhkan kami dari siksaan neraka.” (Surah al-Baqarah: 201)

Semoga umat Islam mengambil pelajaran dan pelajaran dari waktu mereka, semoga mereka menerima peringatan tersebut dan timbul kesadaran akan pergantian malam dan siang, jika mereka termasuk dalam kategori albab atau yang masuk akal yang terkandung dalam ayat berikut:

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan bergantian antara malam dan siang, ada tanda-tanda bagi orang bijak, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika mereka berdiri atau duduk atau berbaring dan berpikir tentang penciptaan langit dan bumi (kata mereka): “Ya Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia. Kemuliaan bagimu, lalu jauhkan kami dari siksaan neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada satu orang penolongpun bagi orang-orang yang zalim. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan yang menyerukan iman (yaitu, “Percayalah pada Tuhanmu”), dan kami pun demikian. Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa kami dan singkirkan dosa-dosa kami, matikan kami beserta orang yang taat. Ya Tuhan kami, beri kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui para rasul-Mu. Dan jangan hinakan kami pada Hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. “(Surah Ali-Imran: 190-194)

Pentingnya Berkah dan Hilangnya Keberkahan Sebagai Tanda Kiamat

Salah satu tanda hari Kiamat berikutnya adalah bahwa waktu tampaknya semakin pendek. Rasulullah SAW menggambarkan hal ini dalam beberapa haditsnya. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Hari Kiamat tidak akan datang sampai waktunya menjadi makin terasa singkat. Satu tahun seperti satu bulan, satu bulan seperti satu minggu, satu minggu seperti satu hari, satu hari seperti satu jam. Dan satu jam seperti api yang membakar daun pohon kurma.” (Sejarah At-Tirmizi, At-Tirmizi mengatakan “hadits gharib dari jalan ini.”)

Dalam hadits lain, Nabi Muhammad SAW juga bersabda, yang berarti:

“Waktu akan dipersingkat, amal akan berkurang, suap akan banyak ditemukan, fitnah akan menyebar dan lebih banyak pembunuhan akan terjadi.” (Sejarah al-Bukhari dan Muslim)

Dihilangkannya Keberkahan

Para ulama tidak mengartikan “waktu dipersingkat” dengan meningkatnya kecepatan rotasi bumi, jadi misalnya, jumlah waktu dalam sehari berkurang hanya 23 jam. Interpretasi seperti itu tentu saja bertentangan dengan logika karena jika kita memutar bola pada titik tertentu, kecepatan rotasi cenderung menurun daripada meningkat.

Namun, para ulama hadis membuat beberapa interpretasi tentang hal ini. Beberapa ulama seperti Qadi ‘Iyad, an-Nawawi dan Ibn Abi Jamrah menafsirkan periode ini secara singkat sebagai tanda telah menghilangnya suatu berkah.

Mereka berkata, “Makna waktu semakin singkat adalah kehilangan berkah tersebut dan suatu hari, misalnya, tidak dapat sepenuhnya digunakan kecuali hanya beberapa jam saja.”

Pendapat ini diperkuat oleh al-Hafiz Ibn Hajar di Fath al-Bari, dengan mengatakan, “Hadits ini berarti bahwa Allah SWT menarik semua berkah dari segala sesuatu, termasuk berkah waktu dan ini adalah salah satu tanda terdekat Kiamat.”

Apa itu Berkah?

Dari segi bahasa, kata “berkah” (barakah) berarti meningkat (al-ziyadah) dan berkembang. Kata ini digunakan untuk menunjukkan “kebaikan yang berlimpah” seperti dalam firman Allah SWT “Kitab Penuh Keberkahan” dan “The Night of Blessing”, yang dipenuhi dengan banyak hal baik.

Rasulullah SAW juga sering berdoa kepada saudara-saudaranya agar Allah SWT memberkati mereka ketika ia berdoa untuk Abu Qatadah, “Ya Allah, berkati kulit dan rambutnya.” Sejak itu, kulit dan rambut Abu Qatadah tidak pernah berwarna abu-abu meskipun usianya sudah lanjut. Al-Hafiz Ibn ‘Asakir dalam Dimasyq Date mengatakan bahwa Abu Qatadah meninggal pada usia 70 tetapi kulit dan rambutnya tetap semuda 17 tahun.

“Kita dapat menyimpulkan semakin sesuatu menjadi berkah berarti kualitas dari sesuatu tersebut tumbuh di luar batasnya.”

Jika sebelum makan kita meminta kepada Allah SWT untuk memberkati makanan kita, maka kita meminta itu bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan ibadah kita. Kuantitas bentuk dan rasa makanan mungkin tidak berubah, tetapi efek positifnya pada mereka yang memakannya akan segera terasa. Tubuhnya semakin kuat dan dia kebal terhadap penyakit. Jiwanya terasa lebih ringan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Tidak dapat disangkal bahwa Allah SWT juga dapat memberkati makanan dengan mengalikan kuantitas dengan kualitas makanan sebagai mukjizat (bagi Nabi) atau karamah (untuk hamba-Nya yang saleh). Hadits tentang ini sangat banyak dan terkenal sehingga mereka tidak perlu dibahas pada kesempatan ini.

5 Keutamaan Sholat Tahajud di Bulan Ramadhan

Sholat tahajud merupakan salah satu sholat sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan. Sholat tahajud ini dilakukan pada malam hari, sedangkan waktu yang paling utama adalah pada sepertiga malam.

Tentu saja ini menajdi hal yang berat terutama bagi Anda yang belum terbiasa untuk melakukannya. Akan tetapi tahukah Anda bahwa keutamaannya begitu banyak?

Sholat tahajud ini adalah sholat yang perlu dilakukan oleh Anda yang ingin segala urusannya dilancarkan, ingin supaya impiannya tercapai, dan ingin melakukan taubatan nasuha atau taubat yang sesungguhnya.

Karena sholat tahajud ini dilakukan di waktu yang di ijabah, terutama jika dilakukan di bulan suci Ramadhan. Sholat ini dilaksanakan dalam dua rakaat yang diakhiri dengan salam.

Keutamaan Sholat Tahajud Bagi Muslim

Lalu apa saja keutamaan dari sholat tahajud bila kita serin gmelakukannya? Berikut ini adalah 5 keutamaan yang bisa Anda dapatkan.

1. Dikabulkannya Doa Doa

Waktu melaksanakan sholat tahajud adalah termasuk waktu diijabahnya doa. Dimana waktu melaksanakan sholat tahajud palin utama adalah pada sepertiga malam hingga menjelan masuknya waktu sholat subuh.

2. Menghindarkan diri dari berbagai penyakit dan meningkatkan kekebalan tubuh

Sedikit yang menyadari bahwa sholat tahajud terutama di waktu yang di utamakan mampu membantu meningkatkan kekebalan tubuh. Dan hal ini sesuai denganpenelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Muhammad Shaleh

3. Mampu membantu melancarkan peredaran darah

Bangun di waktu pagi sekitar jam 03.00 ternyata memberikan manfaat bagi tubuh. Apalagi dengan udara yang begitu segar sehingga peredaran darah bisa menjadi semakinlancar.

4. Menjauhkan diri dari kelalaian hati

Bahkan hal ini disampaikan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al Hakim.

5. Memberikan kerinanan lamanya berdiri di hari kiamat

Hal ini di jelaskan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thabari

Itulah beberapa keutamaan yang akan Andadapatkan bila Anda melaksanakan sholat tahajud. Sebenarnya keutamaan sholat ini ada sangat banyak, akan tetapi 5 hal diatas adalah yang pokok.

Maka bersemangatlah untuk melaksanakan sholat tahajud.

Ceritakanlah segala yang Anda ingin ceritakan kepada Allah setelah Anda melakukan sholat tahajud. Memintalah kepadaNya dan pasrahkan segala urusan Anda.

Fungsi Al-Quran dalam Islam – Petunjuk Yang Benar

Al-Quran merupakan petunjuk keselamatan bagi kaum manusia. Kitab suci ini adalah peta arahan Allah SWT kepada umat Islam. Ini berisi arahan, jawaban, dan pembawa kesejahteraan. Untuk mencapai tujuan ini, Al-Quran menetapkan beberapa pedoman dasar yang harus dipahami dan diterima orang. Ini termasuk:

1. Menyatakan Agama Yang Benar

Allah SWT berfirman dalam hal ini dalam surat Ali-Imran ayat 19:

“Sesungguhnya agama yang paling diridhoi oleh Allah adalah Islam.”

Dalam ayat surat Al-Maidah, ayat 3 juga Allah s.w.t. menyatakan “Hari ini Aku sempurnakan agamamu untukmu dan Aku limpahkan nikmat kepadamu dan Aku ridhoi Islam sebagai agamamu.”

Imam Ibnu Katsir dalam Interpretasi Al-Azim Al-Quran mengatakan, “Ini merupakan hadiah terbesar yang Allah telah berikan kepada umat Muslimm. Ketika Allah SWT menyempurnakan agama Islam, orang Muslim tidak membutuhkan agama selain Islam dan mereka tidak membutuhkan Nabi lain setelah adanya Nabi Muhammad.”

Islam merupakan agama yang paling diridhoi oleh Allah. Muslim wajib memperlajari dan mempraktikkan Islam secara keseluruhan. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah, ayat 208:

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan jangan ikuti langkah-langkah Setan. Setan adalah musuh yang nyata bagi mu.

Imam Ibnu Katsir dalam Al-Azim Al-Quran Interpretation mengatakan, “Allah mengarahkan hamba-hamba-Nya yang taat yang mengimani Rasul-Nya untuk mematuhi semua aturan Islam dan hukum-hukumnya di dalam segala upaya mereka. ”

Islam tidak bisa dikenal dan dipahami tanpa adanya ilmu. Pengetahuan harus berasal dari sumber otentik. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah, ayat 269:

Tuhan memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang diberkan petunjuk, dia benar-benar diberkahi dengan karunia (besar) yang luar biasa. Dan hanya orang yang memiliki akal yang bisa mengambil pelajaran.

Abdullah ibn Abbas, sebagaimana disebut oleh Ibn Kathir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azim, menafsirkan hikmat dalam ayat ini sebagai pengetahuan tentang Al-Quran. Imam Abu Malik menafsirkannya sebagai Sunnah. Beruntung bagi mereka yang mengenal Islam dari sumber aslinya, Al-Quran dan Sunnah.

2. Menyatakan Prinsip-Prinsip Iman yang Benar

Allah SWT berfirman akan hal ini dalam surat Al-Ikhlas, ayat 1 hingga ayat 4:

Yang artinya, “Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang di dalamnya segala hal bergantung. Dia tidak memiliki anak, juga tidak dilahirkan, dan tidak ada yang setara dengan Dia.

Dalam surat Az-Zumar, ayat 65 juga adalah Allah SWT berfirman:

Dan sesungguhnya hal itu diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada para nabi sebelumnya, “Jika kamu menyekutukan Allah, amalmu akan gugur dan kamu akan termasuk ke dalam orang-orang yang merugi.”

Tanpa adanya akhlak, semua amal dianggap tidak berkah. Karena itu, iman dan kepercayaan sejati adalah inti dari Islam. Dasarnya adalah iman kepada Allah SWT. Tindakan menyembah tuhan selain Allah SWT adalah tindakan syirik yang dikutuk oleh agama. Selain itu, Islam juga menolak konsep penyembahan berhala dan penyembahan para nabi dan orang suci.

Salah satu aspek penting dari iman Islam adalah percaya pada hal-hal gaib seperti malaikat, akhirat, surga dan neraka. Allah SWT berfirman akan hal ini dalam surat Al-Baqarah, ayat 3 yang berarti:

Yaitu, orang-orang yang percaya pada yang gaib, mendirikan shalat dan menghabiskan (memberikan) sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

3. Menyatakan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab, ayat 40, yang berarti:

“Muhammad tidak pernah menjadi ayah dari seorang pria di antara kamu, tetapi baginda adalah Utusan Allah dan penutup dari semua Nabi sebelumnya. Dan Allah Maha Mengetahui akan segala sesuatu.

Dalam sebuah hadits yang direkam oleh Imam Bukhari dan Muslim, Nabi SAW bersabda, “Perumpamaan saya dengan para nabi seperti membangun sebuah rumah. Ia menyelesaikan konstruksi dan memperindah bangunan kecuali di tempat yang memang tidak ada batu. Dan yang memasuki rumah akan berkata, betapa indahnya rumah ini kecuali di tempat batu bata tersebut saja. ‘ Aku adalah tempat dari batu bata itu dan aku merupakan penutup dari semua nabi. ”

Nabi Muhammad SAW diizinkan oleh Allah s.w.t. untuk menafsirkan wahyu yang telah Dia firmankan dan untuk menjelaskan risalah yang disampaikan kepada Rasulullah SAW. Ini dinyatakan oleh Allah dalam Surah An-Nahl, ayat 44:

(Kami mengutus Rasul) dengan membawa buktu yang jelas, dan Kami wahyukan kepadamu Al-Quran (wahai Muhammad), agar Anda dapat memberikan peringatan dan menjelaskan kepada orang-orang apa yang telah diturunkan kepada mereka, agar mereka berpikir.

Demikianlah, Nabi SAW tidak diutus oleh Allah SWT hanya sebagai “pengantar surat atau wahyu” namun juga bertugas menerangkan dan melaksanakan tabyun, yaitu untuk menjelaskan isi Al-Quran. Penjelasannya dikenal sebagai sunnah atau hadis dalam Islam.