Sekilas RJF

“The Real Musician is God, He is A Mastermusician.
Human is only His Instruments...”
- John McLaughlin, gitaris jazz legendaris

Ungkapan di atas barangkali bisa menjadi satu refleksi spiritual yang terdalam dari seorang gitaris musik jazz legendaris. Meskipun dia bukan seorang muslim, namun pengakuan tersebut secara tersirat menunjukan bahwa manusia yang lemah ini tidak akan menjadi besar tanpa peran dari Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta. Termasuk para seniman atau musisi.

Tuhan dari Dia-lah manusia mempunyai kehalusan perasaan dan jiwa. Karya seni manusia sering muncul atas “kepekaan” perasaan, jiwa seorang seniman. Kepekaan tersebut hanya sekedar secercah manifestasi dari sifat Lathif-Nya. Seniman juga memerlukan sentuhan kecerdasan maupun akal budi dalam berkarya. Dari-Nya lah sumber kecerdasan dan akal budi hadir dalam berbagai karya seni agung. Sebagaimana Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Mendengar, lagi Maha Melihat. Landasan spiritual tersebut ternyata menyadarkan sebagian musisi dalam mencari sisi – sisi spiritual atas dari mana mereka berasal dan ke mana mereka akan menuju.

Dalam dunia nyata, musik dan praktek ibadah sering terjadi kolaborasi timbal balik yang sangat erat. Musik bisa dijadikan sarana untuk membantu mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta. Tidak sedikit musisi jazz yang muslim juga memasukkan unsur-unsur
agama dalam musiknya, di Indonesia sebagai contoh dalam kumpulan album ”Sound of Believe” dimana para musisi jazz Indonesia merayakan bulan suci melalui musik-musik mereka. Tanpa banyak terekspose ke permukaan, banyak musisi – musisi jazz legendaris
juga memeluk agama Islam. Contohnya seperti Art Blakey (Abdullah ibnu Buhaina), McCoy Tyner, Ahmad Jamal, Abdullah Ibrahim sampai John Coltrane yang juga sering memasukkan unsur-unsur religius dalam musik mereka. Jazz dan keberagama-an senyatanya bisa saling berkait dan Jazz bisa menjadi ekspresi religius dalam bermusik.

 Latest Blog Items 


-->